24 Januari 2017

Meriahnya Pembukaan Bandara Brastagi (16 September 1934)



Peresemian Bandara Berastagi

Sepanjang jalan Medan-Berastagi banyak  polisi ditempatkan,  untuk menjaga lalu lintas yang ada. Sementara jalan  dari Soerbakti ke Berastagi ditutup untuk semua lalu lintas, sementara sisi jalan di Berastagi yang mengarah ke  Bandara Berastagi pada hari  Minggu akan terbuka sebelum jam 8 pagi untuk semua kendaraan, kecuali untuk sado.

Setelah jam  8 jalur ini akan ditutup, baik untuk truk, bus,  kenderaan berkuda  hingga pengendara sepeda. Hanya mobil-mobil  undangan yang  diberikan kesempatan lewat dengan  menunjukkan kartu masuk. Mobil dan bus  yang tidak lagi diperbolehkan setelah jam 8 dapat mencari parkir dekat  dengan Pasar Berastagi.

Di sekitar  lapangan terbang itu sendiri adalah dua area parkir, satu untuk mobil tamu undangan dan satu untuk mobil-mobil lain. Setelah akhir demonstrasi akan ada makan siang berlangsung di Berastagi Hotel.

Untuk kelancaran, maka diatur lalu lintas agar secepat mungkin  undangan bisa sampai ke Hotel. Semua mobil bisa berkendara ke pintu masuk hotel.  Mobil-mobil undangan dapat diparkir di sini, sementara mobil-mobil lain harus  parkir di tikungan berbentuk S di jalan di depan  lapangan golf saja

Polisi pengatur  lalu lintas khusus akan berada di sini dan akan menjadi sangat sibuk dengan minat masyarakat yang menyaksikannya.

Meriahnya Peresmian Bandara Berastagi

Pesta penerbangan dalam rangka peresmian Bandara Berastagi mendapat perhatian yang sangat besar dengan kehadiran 20 pesawat terbang yang antara lain: LA. Skuadron, skuadron dari Royal Air Force, beserta kelompok olahraga terbang layang Belanda dan Inggris.

23 Januari 2017

Drs. Moh. Hatta di Berastagi (1950)




 

Kemarin sore,  Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta beserta rombongan dan beberapa anggota pemerintah daerah dari Medan  tiba di Berastagi. Di perbatasan Kabupaten Karo, Wakil Presiden  disambut oleh Bupati Tanah Karo,  Ketua Dewan sementara Karo, Kolonel Djomat Purba, Kapten Ulung Sitepu dan panitia penerimaan berjumlah 70 orang.


Setelah tiba di B
erastagi,  rombongan Wakil Presiden menuju Bungalow BPM, dimana Drs. Moh. Hatta ditunggu oleh banyak orang. Dalam laporan Mimbar Umum, Wakil Presiden  dimohon  untuk menyelidiki nasib mereka yang hilang dalam masa revolusi. Drs. Hatta berjanji akan segera membalas permintaan ini.

Koran : Het nieuwsblad voor Sumatra
 22-11-1950

12 Januari 2017

Merlep Ginting Melawan Prins (1956)



Historische Kranten, Erfgoed Leiden en Omstreken
Leidsch Dagblad | 16 maart 1956 | pagina 11  (11/16)

Lodewijk Prins adalah pemain catur Belanda terbaik selama lebih dari seperempat abad (1939-1965). Master catur Belanda ini mengunjungi Indonesia pada tahun 1956. Sebuah organisasi nir-laba Stichting Culturele Samenwerking (Yayasan Kerjsama Kebudayaan) menjadi penyandang biaya.

Resumenya meliputi tempat terhormat di Leeuwarden (1940), Amsterdam (1940), Beverwijk (1948), dan Madrid (1951). Tahun 1952 ia lolos ke turnamen antarzonal. Pada masa senja karirnya ia masih cukup bagus untuk menjadi Juara Nasional Belanda 1965. FIDE menganugerahinya gelar GM kehormatan tahun 1982.

Prins menghabiskan waktu dua setengah bulan mengelilingi Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Ia bermain di kota-kota di Jawa seperti Jakarta, Bogor, Bandung, and Semarang. Di Sumatera ia bermain di Medan dan Pematang Siantar.

Selain bermain dalam simultan ia juga terlibat dalam dwilomba satu lawan satu dengan pemain-pemain Indonesia terbaik saat itu. Merlep Ginting dan Baris Hutagalung bermain dengan Prins di Jakarta sementara Arovah Bachtiar mendapat giliran di Banjarmasin. 

Prins hanya mampu mencetak kemenangan tipis atas Hutagalung dan Bachtiar. Melawan Juara Tanah Karo Merlep Ginting,  ia harus membagi angka 1-1.
  

Permainan caturnya dapat dilihat pada laman berikut : IndonesiaBase
Sumber tulisan : IndonesiaBase

Merlep Ginting

M.U. Ginting di media Sora Sirulo menuliskan :

Merlep Ginting sambil makan sirih bermain catur nasional maupun internasional. Dia tak pernah ikut kursus catur, sepenuhnya pemain alam, lahir dari permainan seperti di Cililitan atau tempat lainnya di kampung-kampung Karo. Salah satu penarik utama bagi Merlep selain hobbinya main catur ialah dalam caturnya dia sering bertaruh dalam bermain catur. Karena itu dia tak pernah memperkenalkan dirinya pemain catur ‘jagoan’, supaya orang tak takut main catur sama dia, dan bahkan sering juga ‘mengalah’ dalam permainan, membikin lawan lebih optimis.

19 Agustus 2016

Proses Terciptanya Lagu Sora Mido




17 Agustus 1952, Bupati Tanah Karo Rakoetta Sembiring Brahmana 
di Makam Pahlawan Kabanjahe (Sumber foto :  Nancy Meinintha Brahmana)
Pada  pertengahan  tahun  1960,  Kodim  Tanah  Karo  mengadakan  festival  lagu-lagu  perjuangan.  Ketika  lagu  “Padang  Sambo”  dinyanyikan,  semua  hadirin  merasa tergugah termasuk Kepala Staff Kodim Mayor Mena Pinem, mencucurkan air  mata.  Sejak  saat  itu,  hubungan  antara  Djaga  Depari  dengan  Mayor  Mena  Pinem  semakin  akrab.  Dari  percakapan-percakapan  dan  hasil  diskusi  antara  mereka  berdua,  Mayor  Mena  Pinem  menginginkan  supaya  penghargaan  dan  kenangan  kepada  para  Pahlawan-Pejuang  kita  agar  lebih  ditingkatkan  melalui  lagu-lagu. Dan anjuran tersebut direspon dengan baik oleh Djaga Depari. 

Pada saat itu, Djaga Depari sudah bertempat tinggal di Kabanjahe. Keadaan kota  Kabanjahe  saat  itu,  belum  seramai  sekarang  ini.  Keadaan  Jl.  Veteran,  letak  Makam Pahlawan, masih sangat sunyi. Perumahan  masih  jarang,  sepanjang  jalan  masih ditumbuhi pepohonan yang sangat rimbun. Sebagaimana kebiasaanya, Djaga Depari  suka  berjalan  kaki  berkelana  seorang  diri,  dari  satu  tempat  ke tempat  lain.  Tak   ingat   waktu,   bahkan   tak   peduli   siang   atau   malam,   mencari   ilham.   Demikianlah  pada  suatu  malam  sewaktu  hendak  pulang  ke rumah  berjalan  seorang  diri  melewati  Makam  Pahlawan  Kabanjahe,  hati  Djaga  Depari  terkesima  oleh  hembusan angin yang lembut, membuat dedaunan di sekitar makam berdesir-desir.

Di tengah  kesunyian  malam,  sekonyong-konyong  dia  mendengar  suara  rintihan  dari   arah   makam.   Karena   larut   dalam   suasana,   Djaga   Depari   tidak   dapat   menenangkan hatinya, hingga tak tahu apa makna kata yang didengar. 

Sesampainya di rumah, Djaga Depari merenungkan apa yang dia dengar dan rasakan. Akhirnya,     setelah     merenung     beberapa     hari,     Djaga     Depari     menuangkannya  ke  dalam  bentuk  sebuah  lagu  dengan  memasukkan  unsur-unsur  perjuangan yang dia ketahui, rasakan, dengar dan  alami berjudul Sora Mido.  Lagu ini  menjadi  populer  setelah  dinyanyikan  oleh  Malem  Pagi  Ginting  seorang  penyanyi tradisional Karo yang sangat terkenal saat itu. 

Sora Mido

Terbegi sora bulung erdeso
I babo makam pahlawan si lino
Bagina sora serko medodo
Cawie cere sorana mido-ido

Terawih dipul meseng kutanta ndube
Iluh silumang ras simbalu mbalu erdire-dire
Sora ndehereng perenge-renge ate
Kinata ngayak -ngayak  merdeka ndube

Makana tangarlah si ngelem layar-layar
Ula kal merangap ula dage jagar-jagar
Kesah ras dareh ndube tukurna merdekanta enda
Ula lasamken pengorbanan bangsata

Enggom kap megara lau lawit  ban dareh simbisanta
Enggom megersing lau paya-paya ban iluh tangista
Enggom kap megelap langit ban cimber meseng kuta
Ngayak-ngayak merdeka nta ndube

Tegu me dage temanta si enggo cempang
Didong kal dage anak-anak tading melumang
Keleng ate ras dame sisada karang
E me pertangisen kalak lawes  erjuang

Terbegi sora bulung-bulung erdeso
I babo makam pahlawan si lino
Bagina sora serko medodo
Cawir cere sorana mido-mido

Tentang lagu ini Prof. Masri Singarimbun pernah mengatakan, Sebagai  seorang  pencipta  lagu,  Djaga  Depari  telah  mampu  menyeret-menghanyutkan perasaan  para  pendengarnya  ,  karena  beliau  juga  ikut  sebagai  pelaku  pejuang.  Kekuatan  lagu  ini  tergantung  pada  pesanya.  Jalan  melodi  dan  harmoninya  penuh  perasaan sehinga mudah ditangkap telinga pendengarnya”.

Masih  tentang  lagu  Sora    Mido  ini,  tokoh  budaya  Karo  Nempel  Tarigan,  pernah   mengatakan,   bahwa   terciptanya   lagu   tersebut   dilatar   belakangi   oleh   kepedihan   hatinya   melihat   keadaan   keluarga   pejuang   yang   merana   akibat   kehilangan anggota keluarganya. Antara lain katanya : 

“Setelah  pulang  dari  mengungsi,  keadaan  saat  itu  tidak  menentu.  Banyak  orang    kehilangan    anggota    keluarganya,    apakah    mati    ditembak musuh, mati dimakan binatan buas di hutan, tersesat, cacat dan  lain-lain.  Melihat  keadaan  tersebut,  inspirasi  Djaga  Depari  pun  timbul  ketika  ia  melintas  makam  pahlawan  dan  mendengar  suara  tangisan  sendu  dihadapan  pusara  orang  yang  dikasihinya.  Hatinya  sungguh  pilu  bercampur  sedih  mendengar  suara  tangisan  itu.  Jiwa  seninya  pun  meronta,  memaksa  kalbunya  melakukan  penghiburan  terhadap  mereka.  Dari  kejauhan  terbayang  rasa  pilu  yang  menimpa  teman-temannya.  Ia  termenung,  hatinya  sedih,  kepada  siapakah  dia  mengadu,  akhirnya  semua  itu  dituangkannya  kedalam  sebuah  lagu  yang diberi judul Sora Mido, yang berarti Suara Himbauan.”

Dalam   lagu   Sora   Mido   ini,   Djaga   Depari   menghimbau   kepada   para   pemimpin  bangsa,  agar  janganlah  serakah  dan  main-main.  Karena  dulu,  nyawa  dan darah taruhannya kemerdekaan kita ini. Lihatlah air mata anak yatim dan para janda.  Tuntunlah  teman  kita  yang  timpang  dan  saling  mengasihilah  kamu.


Sumber bacaaan :
Penulis : Marco Bangun
Repository.usu.ac.id


Konflik Tunjangan Veteran dan Terciptanya Lagu Bunga Pariama



Sesaat  setelah  usainya  perang  kemerdekaan,  banyak  para  mantan  pejuang  membuat  masukan  agar  mendapatkan  tunjangan  veteran  dari  pemerintah.  Termasuk  mantan pejuang dari  desa  Seberaya.  Diantara  mereka  ada  beberapa  orang  meminta  bantuan  jasa  kepada  Djaga  Depari  untuk  mengurusnya.  Namun  Djaga  Depari  mengaku  tidak  bisa  mengurus  langsung,  tapi  dia  bisa  menyuruh  temannya.  Para  pengusul  setuju  dengan  usul  itu.  Setelah  usul  diserahkan,  hingga  berbulan-bulan  usul  itu  belum  juga turun, para pengusul kesal dan marah kepada Djaga Depari. Mereka meminta kembali  berkas-berkas  yang  sudah  diserahkan.  Djaga  Depari  menjawab  bahwa  berkas mereka sudah sampai di tengah jalan dengan menyerahkan bukti-buktinya. 

Namun  mereka  tidak  percaya.  Akhirnya  dengan  sangat  kecewa  Djaga  Depari  menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan tanpa meminta ganti rugi biaya yang telah dikeluarkannya.  Satu  di  antara  mereka,  termasuk  juga  anggota  Seni  Drama  Piso  Serit.  Rasa  bencinya  kepada  Djaga  Depari  terus  berbawa-bawa  ke dalam  latihan.  Perasaan  Djaga  Depari  sangat  kecewa,  dia  merasa  dilecehkan  akibat  niat  baiknya  disalah  artikan oleh teman-temannya. Dan itu diutarakannya melalui sebuah lagu berjudul  Bunga Pariama. 

Bunga Pariama

Miap-miap bulung pariama

I embus angin deleng seh  jilena

I duru lingling bage kidah turahna sisada

I deher sabah tikena sabah tikena

I deher sabah tikena sabah tikena



Teptep jelma lit sura-surana

Erban mehuli ku japa gia

Tapi makatep salah bage jadina

Isuan rudang, duri kidah salihna

Isuan rudang, duri kidah salihna



Makana ise kal kin nge si man

Salahen kin ndia

Kuneken serbut meremang tangkelen-tangkelen

Janah pe ise kal kin ngesi man pujin kin nina

Kuneken sikap ras jore cibal geluhna

Kuneken sikap ras jore cibal geluhna



Miap-miap bulung pariama

I duru lingling turahna sisada

Maka terbeluh gekah kita bas doni enda

Makana lit kal bage simalem-malemna

Makan lit kal bage simalem-malemna

Pada  bait  kedua  “aku”  lirik  mengutarakan  isi  hatinya  bahwa  setiap  orang  mempunyai  cita-cita  berbuat  baik  kepada  semua  orang.  Tetapi  niat  baik  itu,  seringkali   disalah   artikan   orang   sehingga   maksudnya   menjadi   salah.   Dia   mengibaratkan seseorang yang menanam bunga tapi berubah menjadi duri. 



Sumber bacaaan :
Penulis : Marco Bangun
Repository.usu.ac.id